Rabu, 20 November 2013

Manusia dan Agama (Makalah)

MANUSIA DAN AGAMA
A. MANUSIA DAN ALAM SEMESTA
    Sesungguhnya dilihat dari sudut pandang manusia,yang ada adalah Allah dan alam Alam (semesta). Allah pencipta sedang alam yang di ciptakan. Alam adalah segala sesuatu yang dapat di tangkap oleh panca indra, perasaan dan pikiran kendatipun samar-samar.
Mulai dari partikel atau zarrah yakni bagian yang sangat kecil dan berdimensi sampai kepada jasad atau tubuh yang besar-besar,dari yang inorganik sampai yang ke organik dari yang paling sederhana susunan tubuhnya sampai kepada yang sangat kompleks (rumit,saling berhubungan) seperti tubuh manusia
  Sebelum Allah menciptakan adam sebagai manusia pertama,alam semesta telah di ciptakannya dengan tatanan kerja yang teratur,rapi dan serasi.keteraturan,kerapian dan keserasian alam semesta dapat di lihat pada dua kenyataan. Pertama,berupa keteraturan,kerapian dan keserasian dalam hubungan alamiah antara bagian-bagian di dalamna dengan pola saling melengkapi dan mendukung.Kedua,keteraturan yang di tugaskan kepada malaikat untuk menjaga dan melaksanakannya.
 Kedua hal itulah yang kemudian membuat berbagai keserasian,kerapian,dan keteraturan yang kita yakini sebagai Sunatullah yakni ketentuan dan hukum yang ditetapkan allah. melalui sunnatullah ini lah, bumi dan alam semesta dapat bekerja secara sistemik ( menurut suatu cara yang teratur rapi).dan berkesinambungan, tidak berubah-ubah tetap saling berhubugan , beketergantungan dan sekali gus secara dinamis saling melengkapi. Perhatikan lah, misalnya, bagiamana mataharibekerja menurut ketetentuan Allah SWT. Sejak diciptakan smpai akhir zaman, insya allah, matahari tetap berada pada titik pusat tata surya yang berputar mengelilingi sumbunya.
     Setiapwaktu, secara teratur dan tetap matahari menyiramkan energinya kepada alam semesta, tanpa bergeser dari posisi yang ditetapkan allah baginya. Bumi sebagai bagian alam semesta, menyerap sinar matahari yang turun secara tetap, tidak berubah- ubah. Menurut para ahli, seperdua milliar bagian dari seluruh pancaran matahari yang meluncur ke bumi.
    Dari satu bagian tata surya saja dapat dapat dilihat kenyataan, begitu luar biasanya keteraturan, kerapaian,keserasian dan keseimbangan yang ada pada ciptaan allah. Tanpa ketetapan ( presisi ) yang sangat cermat (akurat), mustahil bumi, sebagi bagia tata surya, dapat mendukung kehidupan dengan keseimbangan yang serasi. Dalam lingkup yang lain bisa pula dilihat bagaimana sunnatullah (ketetapan atau ketentuan ketentuan Allah) berlaku pada benda atau mahluk lain yang spintas lalu dianggap tiadak berguna namun teryata bermanfaat menpengaruhi benda atau mahluk lain. Lihat lah bagaimana tumbuh-tumbuhan yang membusuk atau kotoran hewan yang memeiliki sunnatullah pada dirinya brguna sebagai pupuk untukk menumbuhsuburkan tanaman.
    Demikinan lah kekuasaandan kebesran Allah dalam ciptaannya yang menyebabkan yang masing-masing ala mini berada dalam ketentuan yang teratur rapi hidup dalam suatu system hubungan sebab akibat. Saampai kebenda sekecil apapun, ketentuan Allah ada dan tetap berlaku, baik secara mikokosmetik (berlaku pada at benda kecil itu) maupun dalam skala makrokosmetik (system yang menyeluruh) suatu benda atau zat membentuk sunnatullah baru melalui jalinan hubungan yang dibentuknya.
    Sunnatullah atau hukum allah yang menyebabkan alam semesta selaras, serasi dan seimbang dipatuhi sepenuhnya oleh Partikel atau zarrah  yang menjadi unsure alam semesta itu. Ada tiga sifat utama Sunnatullah yang disinggung di dalam al qu’anyang dapat ditemukan oleh ahli ilmu pengetahuan dalam penelitian. Ketiga sfat itu adalah (1)  Pasti, (2) tetap dan (3) objektif.
    Sifat sunnatullah Pertama adalah Pasti atau tentu disebutpada ujung ayat 2 al-Qu’'an surat 25 ( al-Furqon) yang terjemhannya berbunyi sebagai berikut,…’’Dia telah menciptakan sesuatu dan dia pula yang  memastikan atau ( menentukan ) ukurannyadengan sangat rapi.”Dipenghujung ayat 3 surat 65  (at-Talaq),….”sesungguhnya allah telah mengadakan ketentuan (kepastian) bagi tiap sesuatu.
  Sifat sunnatullah yang pasti, tentu itu menjamin dan  member kemudahan kepada manusia membuat rencana. Seseorang yang memanfaatkan sunnatullah dalam merencanakan suatau pekerjaaan besar, tidak perlu ragu akan ketetapan penghitungannya. Karena, kalau dia bekerja menurut sunnatulllah, Allah menjamain kebenaran penghitungannya. Kenyataan tersebut diatas didukung oleh sifat sunnatullah  kedua yaitu  tetap, tidak berubah-ubah. Sifat ini terdapat dalam bagian ayat 115 surat al-An’am (6) yang terjemhannya sebagai berikut ….’’tidak ada yang sanggupmengubah kalimat-kalimat Allah’’.
    Sifat sunnatullah yang ketiga adalah objektif. Sifat ini tegambar pada firman allah dalam ayat 105 surat al-Anbiya(21). Disebutkan …’’bahwasanya dunia ini akan  diwarisi oleh hamba-hambaku yang saleh’’. Saleh artinya baik atau benar. Orang baik dan benar adalah orang yan bekerja menurut sunnatullah yang menjadi ukuran kebaikan dan kebenaran itu. Orang yang berkarya sesui atau menuruti sunnatullah adalah orang yang saleh atau orang baik dan benar. Kebenaran yang terdapat pada sunnatullah adalah kebenaran objektif. Berlaku pada siapa saja dimana saja. Barang siapa yang mengikuti dan mematuhi sunnatullah apapun pertimbanganya akan mendapat kejayaan dalam hidup dan usahanya di dunia ini. Sebaliknya akan terjadi kalau orang melanggar atau tidak mengikuti sunnatullah. Ia pasti tidak akan berhasil.
    Contoh ekstrimberikut dapat menjelaskan apa yang kemukakan diatas. Disuatu padang yang luas tanpa ada bangunan atau pepohonan lain, terdapat dua menara yang menjulang sama tingginya.satu adalah menara masjid dan  satu lagi menara casino (tempat bermian judi) dengan papan iklan minuman memabukkan diatasnya. Menara masjid itu tidak memakai penangkal petir karena pertimbangan  bahwa masjid adalah bangunan untuk mendirikan salat dan menaranya dipergunakan untuk memanggil orang dan mengingat dan mendekatkan diri kepada allah. Menara  casino engan iklan minuman haram daiatasnya, memakai penangkal petir’ tidak mengikuti sunnatullah. Dari uraian singkat ini jelas bahwa sunnatullah itu  objektif tanpa pilih kasih. Apa atau siapa saja yang tidak mengikutinya, bahkan melanggar sunnatullah mendapat hukuman.
    Alam semesta yang mengandung dan patuh sepenuhnya kepada hukum, ketetapan dan ketentuan yang disebut sunnatullah itu, berasal dari suatu masa yang kemudia berdiferensiasi menjadi benda benda langit. Benda-benda langit berbeda beda sifat dan ukurannya. Ada yang mengeluarkan sinar sendiri yang yang disebut bintang, ada pula yang mengeluarkan sinar di sebut planet( benda langit yang tidak mengeluarkan panas dan bergerk mengelilingi matahari secara tetap ).

B. MANUSIA MENURUT AGAMA ISLAM
    Manusia adalah mahluk yang sangat menarik. Oleh karena itu ia telah menjadi sasaran studi sejak dahulu,kini dan kemudian hari. Hamper semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkunga hidupnya. Para ahli telah mengkaji manusia menurut bidang studinya masing-masing, tetapi sampai sekarang para ahli masih belum mencapai kata sepakat tentang manusia.ini terbukti dari banyaknya penamaan manusia, misalnya  homo sapien (manusia berakal), homo economicus (manusia ekonomi) yang kadang kala disebut  economic animal (binatang ekonomi), dan  sebagainya. Al-Qur’an tidak menggolongkan manusia kedalam kelompok binatang (animal) selama manusia mempergunakan akalnya dan karunia tuhan lainnya.

Di dalam Al-qur’an manusia di sebut antara lain dengan bani adam ( QS. Al-isra’ (17) 70), Basyar (QS.Al-kahfi (18:110), Al- Insan (76):1), An-Nas (114):1). Berbgai rumusan tentang manusia telah pula di berikan orang, salah satu diantaranya, berdasarkan studi isi Al-Qur’an dab Al-Hadist berbunyi sebagai berikut: Al-Insan ( manusia ) adalah mahlu ciptaan allah yang memiliki potensi untuk beriman kepada allah, dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertan ggung jawb atas segala perbuatannya dan berahklak.
Menurut ajaran islam, manusia dibandingkan dengan makhluk lain mepunai berbagai cirri, antara lain cirri utamanya adalah:

1.  Mahkluk yang paling unik di jadikan dalam bentuk  yang baik, ciptaan tuhan yang paling sempurna.”sesungguhnya kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang debaik-baiknya”.(QS.At-Tin (95):4)

2.  Manusia memiliki potensi ( daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan ) beriman kepada allah. Sebab sebelum ruh ( ciptaan ) Allah dipertemukan dengn jasad di rahim ibunya, ruh yang berada di alam gaib itu ( akan di jelaskan kemudian ) di tayai allah, apakah mengakui allah sebagai tuhan mereka (“Alastu bi rabbikum?: apakh mengakui aku sebagai tuhan kalian ?” ). Serentak dan semuanya mengakui allah sebagai tuhan mereka (“ Balashidna: Ya, kami akui (kami saksikan ) engkau adalh tuhan kami”). (QS. Al-a’raf (7):172)

3.   Manusia diciptakan allah untuk nengabdi kepadanya. Tugas manusia untuk mengabdi kepada allah dengan tegas dinyatakannya di dalam Al-Qur’an surat az-Zariyat (51):56). Yang terjemahannya sebagai berikut, “tidak ku jadikan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada ku.” Mengabdi kepada allah dapat di lakukan manusia melalui dua jalur, jalur khusus dan jalur umum. Pengabdian melalui jalur khusus di laksakan denan melakukan ibadah khusus, yaitu segala upacara pengabdian langsung kepada allah yang cara dan waktunya telah di tentukan oleh allah sendiri sedang rinciannya di jelaskan oleh rasulnya, seperti ibadah sholat, zakat, saum, dan haji. Pengabdian melalui jalur umum dapat di wujudkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan  baik yang di sebut dengan amal shaleh yaitu segala perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat, dengan niat ikhlas untuk mencari keridhaan allah.

4.  Manusia diciptakan tuhan menjadi khlifahnya di bumi. Hal itu dinyatakan allah dalam firmannya. Di dalam surat al baqarah (2):30 dinyatakan bahwa allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah-nya di bumi.

5. Di sampimg akal, manusia dilengkapi allah dengan perasaan dan kemauan atau kehendak. Dengan akal dan kehendaknya manusia akan tunduk dan patuh kepada allah, menjadi  muslim; tetapi dengan akal dan kehendaknya juga manusia dapat tidak percaya, tidak tunduk dan tidak patuh kepada kehendak allah, bahkan mengingkari-nya (kafir) . karena itu, di dalam surat al kahfi (18):29 allah menegaskan yang artinya….’’  Kebenaran itu datangnya dari tuhan mu. Barang siapa mau beriman hendak lah ia beriman dan barang siapa yang tidak ingin beriman , biar lah ia kafir.”

6.  Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya.ini dinyatakan tuhan dalam firman-nya yang kini dapat dibaca dalam Al-Qur’an surat at-Thur (52) ujung ayat 21 yang terjemahannya berbunyi ( lebih kurang) sebagai berikut :…”setiap orang(manusia ) terikat (dalam bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya”.

7. Berakhlak. Berakhlak adalah ciri utama manusia dibandingkan dengan dengan mahluk lain.artinya manusia adalah mahkluk yang diberi allah kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang buruk.

    Setelah menguraikan rumusan tentang manusia diatas kini kita catat pula asal usulnya. Pada beberapa tempat didalam al-quran tuhan menyebut dari apa manusia diciptakan, dari bahan apa manusia berasal. Didalam surat al-an’am(6):2 allah menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Ditempat lain menyebutkan bahwa ia menciptakan manusia dari lumpur(tanah) hitam yang diberi bentuk(QS. Al-hijr(15):26). Dalam surat ar-rahman(55 ayat 14) allah menyatakn bahwa”dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”.

    Dari uraian singkat mengenai asal manusia itu dapat diketahui bahwa manusia menurut agama islam terdiri dari dua unsur yaitu unsure  materi dan unsure immateri. Unsure materi adalah tubuh yang berasall dari air dan tanah. Unsure immateri adalah ruh yang berasal dari alam gaib.  Proses kejadian manusia itu secara jelas disebutkan dalam Al-Qur’an  ( dan al-hadis) yang telah dibuktikan kebenarannya  secara ilmiah oleh Maurice Bucaille dalam bkunya Bible, Quran,dan Sains Modern terjemahan H.M. Rasjidi(1978).

    AL-Qur’an yang mengungkapkan proses kejadian manusia itu antara lain terdapat di dalam surat alMu’minun (23) ayat 12 sampai 14, yang maknanya lebih kurang sebagai berikut,”dan sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dari saripati tanah (12),kemudian saripati tanah itu kami jadikan menjadi air mani (yang di simpan) dalam tempat yang kokoh atau rahim (13). Kemudian air mani itu kami jadikan menjadi segumpal darah, lalu (segumpal darah itu) kami jadikan menjadi segumpal daging. Segumpal daging itu kami jadikan (menjadi) tulang belulang, lalu (tulang belulang itu)kami bungkus dengan daging pula. Kemudian kami jadikan dia menjadi makhluk yang berbentuk lain. Maha suci Allah, pencipta yang paling baik”(14). Dalam surat As-sajdah (32) ayat 7,8,9, Allah berfirman yang artinya sebagai berikut,”(dialah) yang membuat segala sesuatu dengan ciptaan yang sebaik-baiknya yang melalui penciptaan manusia dari tanah (7). Kemudian dia jadikan keturunan-keturunannya dari saripati air yang hina (air mani) (8). Kemudian dia menyempurnakan ciptaannya itu dan dia tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaannya). Lalu di jadikan pendengaran,penglihatan,dan hati”…(9).

    Dari ungkapan Al-Qur’an dan al-Hadish yang di kutip di atas, kita dapat mengetahui bahwa ketika masih berbentuk janin sampai berumur empat bulan, embrio manusia belum mempunyai ruh. Ruh itu baru di tiupkan ke dalam janin setelah janin itu berumur empat bulan (3 x 40 hari).

    Dari proses kejadian dan asal manusia menurut Al-Qur’an itu, Ali Syari’ati, sejarawan dan ahli sosiologi islam, mengemukakan pendapatnya berupa interpretasi tentang hakikat penciptaan manusia. Menurut beliau ada simbolisme dalam penciptaan manusia dari tanah dan dari ruh (ciptaan) Allah. Makna simbolisnya adalah manusia mempunyai dua dimensi (bidimensional): dimensi ketuhanan, dan dimensi kerendahan atau kehinaan.

    Karena hakikat penciptaan inilah maka manusia pada suatu saat dapat mencapai derajat yang tinggi, tetapi pada saat yang lain dapat meluncur kelembah yang dalam,hina, dan rendah. Fungsi kebebasan manusia untuk memilih, terbuka baik ke jalan tuhan maupun sebaliknya, kejurang kehinaan.

    Ali Syari’Ati lalu memberikan rumusan tentang filsafat manusia sebagai berikut: Pertama, manusia tidak sama, tetapi bersaudara. Perbedaan antara persamaan dan persaudaraan adlah jelas. Persamaan menunjuk pada istilah hukum, sedang persaudaraan menunjuk pada esensi yang identik dalam diri seluruh umat manusia terlepas dari latar belakang ras, jenis kelamin dan warna kulit. Persaudaraan berarti seluruh umat manusia berasal dari asl usul yang sama. Kedua, terdapat persamaan antara pria dan wanita, karena mereka berasal dari sumber asal yang sama, yakni dari tuhan, kendatipun dalam berbagai ospek terdapat perbedaan-perbedaan (karena kodratnya atau karena bawaan sejak lahir).

    Dalam perjalanan sejrah, karena itu, manusia selalu bergerak ke spektrum yang mengarah kejalan tuhan. Di pihak lain manusia mengarah juga ke sepektrum yang sebaliknya, yaitu kejalan setan. Dalam tarik menarik mengenai arah yang di tuju itu. Manusia harus menentukan pilihannya. Dengan akal yang merupakan anugrah tuhan kepadanya, manusi dapat memilih apkah yang akan terbenam dalam lumpur kehinaan ataukah ia akan mengangkat dirinya menuju ke kutup mulia ke arah Allah.

    Dalam menentukan pilihan itulah, manusia memerlukan petunjuk. Petunjuk yang benar yang terdapat dalam agma Allah yang menciptakan manusia itu sendiri yaitu agama islam.    
    Kenapa agma islam?

Sebabnya, karena agama islam adalah agama yang tidak hanya berorientasi kepada dunia ini saja (yang di lambangkan oleh tanah yang menjadi bahan asal manusia) atua kepada akhirat saja yang di lambangkan oleh kata ruh (ciptaanp-Nya) itu tetapi kepda keseimbangan antara keduannya.

    Al-Qur’an adalah sumber agama islam, mengandung berbagai ajaran termasuk ajaran tentang kehidupan manusia. Mel,alui Al-Qur’an, karena itu, manusia mengetahui siapa  dirinya, dari mana ia berasal, di mana ia berada sekarang davn kemana ia akan pergi
    Berangkat dari kalimat tersebut terakhir ini, pada uraian berikut (secara singkat) akan di jelaskan perjalanan hidup manusia yang di mulai darinya dan pasti akan kembali padanya.

C. AGAMA: ARTI DAN  LUANG LINGKUPNYA
    Mengenai agama, perlu dijelaskan lebih dahulu beberapa hal berikut. Perkataan agama berasal dari bahasa sanseketa yang erat hubungannya dengan agama hindu dan budha. Dalam kepustakaan dapat dijumpai uraian tentang perkataan ini. . karena ada bermacam teori mengenai kata agama. Salah satu diantaranya mengatakan, akar kata agama  adalah gam yang bahasa sansekerta mendapat awalan a dan akhira a sehingga menjadi a-gam-a, akar itu kadang-kadang mendapat awalan I dengan akhiran yang sama, sehingga menjadi i-gam-a, kadangkala mendapat akhiran u dengan akhiran yang sama  sehingga menjadi kata u-gam-a. yang menjadi awal pekataan agama, termasuk dalam rumpun bahasa indo-jerman, serumpun dengan bahasa belanda dan inggris. Dalam hubungan dengan makna dengan perkataan-perkataan diatas (agama, igama, dan ugama) dalam bahasa bli ketiganya mempunyai makna berikut. Agama artinya peraturan, tata cara, upacara hubungan manusia engan raja; igama artinya peraturan, tatacara, upacara dengan hubungan dengan dewa-dewa; sedang ugama adalah peratura, tatacara dalam berhubungan antar manusia.

    Ketiga kata itu kini telah dipakai dalam tiga bahasa: agama dalam bahasa Indonesia, igama dalam bahasa jawa dan ugama dalam bahasa melayu atau Malaysia dengan pengertian yang sama. Pengertian jalan sebagai perubahan arti pergi,terdapat juga dalam agama syinto(jepang), budha menyebut undang-undung pokoknya: jalan.jesus kristus menyeru agar pengikutnya mengikuti jalannya. Dalam agam islam terdapat perkataan syariat dan tarikat artinya jalan. Agam hindu dan budha menyebarkan agama di kepulawan nusantara ini, diambil alih oleh bahas melayu dan dilanjutkan oleh bahasa Indonesia. Selain kata agama yang telah disebutkan di atas menurut teori, ada beberapa arti lain yang dikandung oleh perkataan agama

    Salah satu diantaranya adalah tradisi atau kebiasaan. Yang dimaksud adalah tradisi atau kebiasaan dalam gama hindu dan budha. Setelah agama islam datang kenusantara ini, masyarakat nusantara yang berbahas melayu mempergunakan kata agam juga untuk menunjukkan system ajaran ynag dibawa islam.

    Dari uraian tersebut di atas jelas bahwa ada masalah mengenai makna perkataan agam di tanah air kita.permasalahannya adalah,dilihat dari sudut ilmu pengetahuan keagamaan, terdapat kerancuan dalam pemakain kata agama, karena di pakai untuk agama-agama ynag berbeda system dan ruang lingkupnya, system dan ruang lingkup agama nasrani, seperti telah disebut diatas tetap disebut kembali untuk menegaskan, hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhan saja sedang sitem dan ruang lingkup agama isalam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan manusia, termasuk dirinya sendiri serta lingkungan hidupnya. Memprbandingkan sitem dan ruag lingkup ini sengaja dilakukan terhdap dua agama samawi atau agama wahyu yaitu nasrani dan islam untuk memudahkan pemahaman. Namun, segera harus dikemukakan bahwa perbedaan itu tidak boleh dipergunakan untuk menyerang dan merendahkan agama lain, karena kedua agama yang di bandingkan itu sam-sama berasal dari allah.

    Agama adalah “the problem of ultimate concern” : maslah yang mengenai kepntingan mutlak setiap orang. Olehnkarena itu’ menurut paul Tillich, setiap orang yang beragama dalam keadaan involved(terlibat) dengan agama yang dianutnya kata professor rasjidi , manusia yang beragama itu “aneh”. Ia melibatkan diri dengan agama yang dipeluknya dan mengikatkan dirinya kepada tuhan. Tetapi, bersamaan dengan itu ia merasa bebas, karena bebas menjalankan segala sesuatu menurut keyakinannya.

    Karena agama mengenai kepentingan mutlak setiap orang dan setiap orang beragama terlibat dengan agam yang dipeluknya, maka tidaklah mudah membuat sebuah definisi yang mencakup semua agama. Kesulitannya adalah karena setiap orang yang beragama cenderung memahami agama menurut ajaran agamanya sendiri. Hal ini di tambah lagi dengan fakta bahwa kenyataan agama didunia ini amat beragam. Namun karena ada segi-segi agama yang sama, suatu rumusan umum sebagai defenisi kerja mungkin dapt dikemukakan. Agama iyalah kepercayaan kepada tuhan yang dinyatakan dengan mengadakan hubungan dengan dia melalui upacara, penyembahan, dan permohonan, dan membentuk sikap hidup manusia menurut atau berdasarkan ajaran agama itu. Selain segi-segi persamaan, antara agama yang beragam itu terdapat juga perbedaan –perbedaan, seperti telah disebut diatas. Dalam menghadapi perbedaan itu didalam masyarakat majemuk karena beragamnya agama di tanah air kita sikap yang perlu di tegakkan oleh pemeluk agama adalah sikap’ agree in disagreement,sikap setuju(hidup bersama) dalam perbedaan”.

D. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN AGAMA
    Dalam masyarakat sederhana banyank peristiwa yang terjadi dan berlangsung disekitar manusia dan didalam diri manusia, tetapi tidak di pahami oleh mereka. Yang tidak di pahami itu di masukkan ke dalam kategori gaib. Karena banyak hal atau peristiwa gaib ini menurut pendapat mereka, mereka merasakan hidup dan kehidupan penuh dengan ke gaiban. Menghadapi peristiwa gaib ini mereka merasa lemah tidak berdaya.

    Dalam masyarakat moderen yaitu masyarakat yang telah memahami peristiwa-peristiwa alam dan dirinya, melalui ilmu pengetahuan, ketergantungan kepada kekuatan yang di anggap menguasai alam gaib dalam masyarakat sederhana, menjadi berkurang bahkan di beberapa bagian dunia menjadi hilang. Perkembangan pemikiran manusia terhadap diri dan alam sekitarnya menjadi berubah. Timbulah berbagai teori mengenai hubungan manusia dengan diri dan alam sekitarnya salah satu teori (pendapat yang di kemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa) yang banyak mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan sosial, adalah teori August Comte  yang terdapat dalam bukunya yang masyhur: Course de la Philosophie Positive.

    Sejarah umat manusia di barat menunjukkan kepada kita bahwa dengan mengenyampingkan agama dan menempatkan ilmu dan akal manusia semata-mata sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai segala-galanya (anthropocentrisme yaitu paham yang menjadikan manusia menjadi pusat), telah menyebabkan berbagai krisis dan malapetaka. Dan karena pengalaman itu, kini perhatian manusia di bagian dunia itu dan di seluruh dunia kembali kepada agama ini di sebabkan karena beberapa hal. Di antaranya adalah karena (1) para ilmuwan yang selam ini meninggalkan agama, kembali berpaling pada agama sebagai pegangan hidup yang sesungguhnya, dan (2) karena harapan manusia kepada otak manusia untuk memecahkan segala masalah yang di hadapinya pada abad-abad yang lalu, ternyata tidak terwujud.

    Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa agama, sangat perlu bagai manusia terutama bagi orang yang berilmu, apapun disiplin ilmunya. Sebabnya karena dengan agama ilmunya akan lebih bermakna bagi kita umat islam, agama yang di maksud adalah agama yang kita peluk yaitu agama islam.
    Kenapa Islam?

    Sebabnya, karena agama islam adalah agama akhir yang tetap mutakhir, agama yang selalu mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat kauniyah (Sunatullah) yang terbentang di alam semesta dan memahami ayat-ayat Qur’aniyah yang terdapat di dalam Al-Qur’an, yang menurut penelitian Dr. Maurice Bucaille (1976) (seperti telah di sebut di muka), mengandung pernyataan ilmiah yang sangat moderen. Agama islam adalah agama keseimbangan dunia dan akhirat agama tidak mempertentangkan iman dan ilmu, bahkan menurut Sunah Rosulullah, agama yang mewajibkan manusia baik pria maupun wanita, menuntut ilmu pengetahuan mulai dari buain sampai ke liang lahat.

    Sebagai penutup butir ini agaknya tidak ada salahnya juga kalau di kemukakan sebagai informasi bahwa di kalangan ilmuwan islam pun penyatuan agama dan ilmu itu telah menjadi cita-cita.
Ilmu pengetahuan di bagi dua. Pembagian ilmu kedalam kelompok ini di pertegas oleh konferensi pendidikan islam di mekkah tahun 1977 dengan nama 
(1) revealed knowledge, yaitu ilmu pengetahuan yang di wahyukan, dan
(2) acquired knowledge, yaitu ilmu pengetahuan hasil penalaran manusia. Kedua macam ilmu pengetahuan ini perlu di bedakan tetapi tidak boleh di pisahkan. Seperti tradisi ilmu yang berfasal dari barat (semata-mata insani) yang di ajarkan di perguruan tinggi, juga di perguruan tinggi di tanah air kita. Dalam kebangkitan islam dan untuk kejayaan umat islam di masa yang akan datang, kedua ilmu itu seyogyanya di pergunakan. Ilmu ilahi dan ilmu yang dating dari Allah yang terdapat dalam ajaran agama menjadi dasar atau titik tolak pengembangan ilmu insane atau ilmu yang di kembangkan oleh penalaran manusia. Ilmu insane tidak boleh bertentangan dengan ilmu illahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar